Terapi Kesabaran berbasis nilai Islam terbukti sebagai intervensi psikospiritual yang holistik dan efektif. Berdasarkan tinjauan teori dan bukti empiris, terapi ini tidak hanya mengurangi tekanan psikologis—stres, kecemasan, depresi, dan perilaku maladaptif—tetapi juga memperkuat keseimbangan tubuh, pikiran, hubungan sosial, dan spiritualitas. Pendekatan bio-psiko-sosio-spiritual yang digunakan menegaskan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat dipahami secara parsial; tubuh, emosi, interaksi sosial, dan makna spiritual saling terkait dan membentuk pengalaman hidup secara utuh.
Dalam praktiknya, Terapi Kesabaran membantu individu mengelola stres melalui pernapasan sadar, meditasi, zikir, dan refleksi diri. Secara psikologis, terapi ini melatih pengaturan emosi, penerimaan diri, dan kemampuan menghadapi tekanan hidup dengan kesadaran. Di ranah sosial, kelompok dukungan memperkuat empati, solidaritas, dan rasa keterhubungan. Sementara itu, dimensi spiritual memberi fondasi ketabahan, rasa syukur, dan kedamaian batin yang menuntun pada pemahaman bahwa setiap ujian hidup memiliki makna pembelajaran.
Hasil empiris menunjukkan penurunan gejala psikologis secara signifikan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih bermakna. Temuan ini menegaskan bahwa kesabaran bukan sekadar menahan diri, melainkan strategi transformasi yang menghubungkan tubuh, pikiran, hati, dan hubungan dengan Tuhan serta sesama. Terapi Kesabaran mengajarkan bahwa melalui kesadaran, penerimaan, dan refleksi, manusia mampu menemukan ketenangan dan kekuatan di tengah tantangan hidup.