Penulis: Aldi Istanzia Wiguna
Perancang Sampul: Tim Kreatif
Penata Letak: Tim Kreatif
Perjalanan Persatuan Islam sebagai organisasi modernis dan puritan diawali dengan sekelompok pengajian yang biasa diadakan di Jalan Belakang Pakgade. Kelompok ini terdiri dari dua puluh orang jamaah shalat Jum’at yang rutin mengadakan kenduri atau diskusi di rumah Haji Zamzam dan Haji Yunus. Kemudian pada tanggal 12 September 1923, kelompok ini mengukuhkan dirinya sebagai sebuah organisasi Islam modernis dengan tujuan mengembalikan umat kepada tuntunan Qur’an dan Sunnah. Baru pada tahun 1926 ketika seorang lelaki asal Singapura bernama Ahmad Hassan atau yang akrab disapa Tuan Hassan bergabung, organisasi massa ini mulai mendapatkan perhatian luas dari masyarakat Indonesia khususnya kota Bandung.
Meski pada masa itu, di kota Bandung telah berdiri banyak organisasi modernis seperti Muhammadiyah dan Sarekat Islam, kehadiran Persatuan Islam sebagai organisasi massa saat itu memiliki daya tarik dan magnet tersendiri wabil khusus bagi mereka yang ingin mengkaji Islam secara mendalam dengan tujuan memurnikan ajaran Islam atau purifikasi dari hal-hal yang dianggap bertentangan dengan syari’at Islam seperti takhayul, bid’ah, dan khurafat. Pada masa itu, dakwah yang dilakukan Persatuan Islam tidak sekadar berbasis diskusi belaka.